H017 ~ Menjauhi Pertengkaran Atau Perdebatan (Bag.1)
Halaqah 17 | Meninggalkan Pertengkaran (Khushumat)
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Alhamdulillāh wasshalātu wassalāmu ‘alā Rasūlullāh wa ‘alā ālihi wa ashhābihi wa man wālah.
Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Ushūlus Sunnah yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hambal rahimahullāh.
Beliau mengatakan setelah sebelumnya menyebutkan bahwa termasuk pokok sunnah adalah berpegang teguh dengan apa yang berada di atasnya para sahabat Rasūlullāh ﷺ mengikuti mereka meninggalkan bid'ah dan setiap bid'ah maka itu adalah sesat. Dan ini sudah kita bahas. Jadi termasuk pokok Ahlussunnah yang membedakan antara mereka dengan Ahlul Bida' adalah berpegang teguhnya mereka dengan jalan para sahabat dan pemahaman para Salaf dan juga meninggalkan bid'ah-bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan.
Kemudian beliau mengatakan:
وَتَرْكُ الْخُصُومَاتِ
"Dan meninggalkan pertengkaran."
Dan pertengkaran di sini Allāhu Ta’ālā A’lam di sana yang dimaksud oleh beliau dengan pertengkaran di sini adalah pertengkaran secara umum baik masalah dunia maupun masalah agama. Karena nanti setelahnya beliau akan menyebutkan pertengkaran secara khusus yaitu yang berkaitan dengan agama. Sehingga khushūmāt yang awal ini atau yang pertama ini lebih umum daripada yang kedua.
Mereka yaitu Ahlussunnah wal Jama'ah di antara ciri-ciri mereka adalah mereka meninggalkan khushūmāt meninggalkan pertengkaran. Dan yang dimaksud dengan khushūmāt pengertiannya yang dimaksud dengan pertengkaran adalah banyak berbicara atau berdebat dengan maksud untuk mendapatkan harta atau mendapatkan hak tertentu. Ini yang dimaksud dengan khushūmāt yaitu banyak berbicara atau berdebat dengan maksud untuk mendapatkan harta atau hak tertentu.
Dan yang namanya khushūmāt ini ada ada sebabnya di antara sebabnya adalah jidal. Nanti akan disebutkan tentang bagaimana Ahlussunnah wal Jama'ah mereka meninggalkan jidal. Jadi khushūmāt adalah pertengkaran yaitu hasilnya adapun sebabnya di antaranya adalah karena debat yang tidak syar'i debat yang tidak terpenuhi di sana syarat-syarat perdebatan.
Kenapa Ahlussunnah mereka meninggalkan yang dinamakan dengan khushūmah? Karena berdasarkan hadis Nabi ﷺ yaitu hadis Abu Umamah yang diriwayatkan oleh Abu Daud di dalam sunannya:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
"Aku menanggung dengan sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia adalah orang yang berada di pihak yang benar."
Maka hadis ini menunjukkan kepada kita tentang keutamaan meninggalkan perdebatan meskipun seseorang sebenarnya dia berada di pihak yang benar. Ya tapi dia tinggalkan itu karena Allāh dan menginginkan yang lebih baik dari itu di sisi Allāh yaitu surga dan juga masuk di dalam surga dan mendapatkan rumah di dalam surga. Maka Ahlussunnah wal Jama'ah secara umum di antara sifat mereka mereka bukan orang yang senang bertengkar ya bukan orang yang senang untuk berdebat.
Kebiasaan mereka adalah menerima dan menyerahkan diri kepada Allāh tidak mengikuti hawa nafsu mereka.
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
"Dan tidak pantas bagi seorang yang beriman baik laki-laki maupun wanita apabila Allāh ﷻ sudah menentukan sebuah perkara kemudian mereka memiliki pilihan yang lain."
Sehingga secara umum Ahlussunnah wal Jama'ah pengikut Nabi ﷺ dan juga para sahabat bukanlah termasuk orang yang senang untuk bertengkar dan juga berdebat. Kebiasaan mereka adalah mengikuti dalil. Kalau memang itu adalah sahih di dalam sunnah dan itu adalah ayat dengan pemahaman yang benar maka mereka menyerahkan diri berpegang teguh dengan kebenaran tersebut dan tidak memperbanyak yang dinamakan dengan perdebatan.
Sehingga Al-Imam Ahmad bin Hambal di sini menyebutkan bahwa di antara pokok-pokok akidah mereka adalah tarkul khushūmāt. Di sana ada beberapa atsar dari sebagian Salaf yang mereka melarang kita dan mengingatkan kita dari khushūmah ini.
Ya berkata Ali bin Abi Thalib:
إِيَّاكُمْ وَالْخُصُومَةَ فَإِنَّهَا تَمْحَقُ الدِّينَ
"Hati-hatilah kalian dengan khushūmah." Banyak bertengkar entah itu secara langsung atau bertengkar di Facebook atau di WhatsApp atau di grup. Hati-hati kalian dengan khushūmah yaitu pertengkaran yang tidak syar'i yang masing-masing di situ terlihat mengikuti hawa nafsunya. Baik itu mungkin dia adalah seorang Ahlussunnah atau pun dia Ahlul Bida' terkadang Ahlussunnah juga terbawa bukan lagi ingin menampakkan agama Allāh tapi karena ingin menampakkan kehebatannya kemampuannya di dalam menghafal kemampuannya dalam mendatangkan dalil dan seterusnya.
إِيَّاكُمْ وَالْخُصُومَةَ
"Hati-hati kalian dengan pertengkaran." Baik itu dengan Ahlul Bida' maupun dengan Ahlussunnah sendiri. Ini bukan termasuk kebiasaan Ahlussunnah.
فَإِنَّهَا تَمْحَقُ الدِّينَ
"Karena sesungguhnya khushūmah itu bisa merusak atau menghilangkan agama." Ini bisa mengurangi iman seseorang yang sebelumnya seseorang istikamah di dalam dakwah di dalam ibadah tapi karena dia mulai membuka pintu untuk bertengkar dengan yang lain akhirnya diikuti pertengkaran yang pertama dengan pertengkaran yang selanjutnya akhirnya bisa merusak keistikamahan dia. Hati-hati dengan yang namanya khushūmah ini.
Al-Ahnaf bin Qais beliau mengatakan:
كَثْرَةُ الْخُصُومَةِ تُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ
"Banyak bertengkar." Kebiasaan sebagian orang maunya adalah bertengkar tidak bisa menjaga lisan memanas-manasin orang lain berkata dengan ucapan yang jelek kepada siapa saja dan dia merasa senang kalau dia diladeni. Maka katsratul khushūmah tunbitun nifāqa fil qalbi (banyak bertengkar ini akan menumbuhkan kenifakan di dalam hati seseorang). Hati-hati.
Karena bukan termasuk sikap seorang yang beriman baik laki-laki maupun wanita apalagi seorang Ahlussunnah. Kebiasaan mereka adalah tunduk dengan dalil berbicara karena Allāh dan diam karena Allāh bukan seorang yang memperbanyak pertengkaran.
Muawiyah bin Qurrah rahimahullāh beliau mengatakan:
إِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الْخُصُومَاتِ فَإِنَّهَا تُحْبِطُ الْأَعْمَالَ
"Hati-hati kalian dengan pertengkaran-pertengkaran." Kalau sudah mulai di sana ada tujuan yang tidak baik mulai ada ucapan-ucapan yang kotor yang dilontarkan mulai memanas majelis maka hati-hati jangan kita mengikuti yang demikian. Jangan kita habiskan waktu kita dan kita korbankan iman kita karena mengikuti hawa nafsu. Karena yang demikian bisa membatalkan amalan seseorang.
Ini pesan dari para Salaf yang mereka sudah sangat berpengalaman. Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullāh beliau mengatakan:
لَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْخُصُومَاتِ
"Janganlah kalian mendebat orang-orang yang memang dia suka bertengkar."
فَإِنَّهُمْ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ
"Karena sesungguhnya mereka ini adalah orang-orang yang senang berbicara memperdebatkan tentang ayat-ayat Allāh." Allāh ﷻ mengatakan:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
"Dan di antara manusia ada yang menakjubkan dirimu ucapannya di dalam kehidupan di dunia ini kemudian dia mempersaksikan Allāh atas apa yang ada di dalam hatinya padahal dia adalah seorang yang aladdul khishām (yaitu orang yang memang suka untuk berdebat)."
Maka secara umum kita harus berhati-hati dari yang namanya pertengkaran ini. Karena dikhawatirkan dari kebiasaan seseorang senang bertengkar senang berdebat di dalam masalah dunia akhirnya akan menjadikan seseorang dia suka bertengkar dan berdebat di dalam masalah agamanya bukan hanya dalam masalah dunianya saja.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
Wassalamu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Abdullah Roy di Kota Jember.
Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah HSI Abdullah Roy.
No comments:
Post a Comment
Silahkan tinggalkan komentar Anda.