004 Pujian Para Ulama Kepada Penulis Kitab (lanjutan) dan Wafatnya Beliau

Bagian ini merupakan pembahasan tentang pujian para ulama terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, sekaligus ujian dan cobaan yang beliau alami sepanjang hidupnya. 

Pujian Para Ulama

Di antara ulama yang memuji beliau adalah As-Subki Muhammad bin Abdul Barr Asy-Syafi‘i (w. 777 H). Beliau berkata bahwa tidaklah yang membenci Ibnu Taimiyyah kecuali orang yang bodoh atau orang yang mengikuti hawa nafsunya. Ucapan ini menunjukkan besarnya kedudukan Syaikhul Islam di mata para ulama lintas mazhab.

Saya nukilkan pula ucapan Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, penulis kitab Fathul Bari. Ibnu Hajar memuji Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan menyatakan bahwa beliau adalah orang yang paling kuat dalam memerangi ahlul bid‘ah, khususnya dari kalangan Rafiḍhah, Hululiyyah, dan Ittiḥadiyyah, yaitu kelompok yang meyakini bahwa Allah ﷻ menyatu dengan makhluk-Nya atau berada dimana-mana.

Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa karya-karya Syaikhul Islam dalam membantah aliran-aliran tersebut sangat banyak dan masyhur, hingga fatwa-fatwa dan tulisan-tulisannya dalam masalah ini sulit untuk dihitung karena saking banyaknya.

Dalam pernyataan beliau yang lain, Ibnu Hajar mengatakan bahwa seandainya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak memiliki keutamaan selain satu keutamaan saja, yaitu memiliki murid seperti Ibnul Qayyim, dengan karya-karyanya yang telah memberi manfaat besar bagi orang yang sependapat maupun yang memusuhinya, maka hal itu sudah cukup menunjukkan keutamaan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah.

Ujian dan Cobaan yang Dihadapi

Setelah itu, perlu diketahui bahwa inilah sunnatullah bagi setiap orang yang berdakwah di atas jalan para nabi dan rasul. Mereka pasti menghadapi ujian dan cobaan. Demikian pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Beliau memiliki banyak musuh di zamannya, dan banyak dari mereka berdusta atas nama beliau.

Di antara musuh-musuh beliau diantaranya ; a) Sebagian kelompok Sufi, b) Ahlul kalam, dan c)Ahlul bid‘ah. Permusuhan ini tidak hanya terjadi pada masa beliau, tetapi terus berlanjut hingga hari ini.

Contoh Kedustaan atas Nama Syaikhul Islam

Di antara kedustaan yang disebarkan adalah cerita bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah menjelaskan tentang turunnya Allah ﷻ ke langit dunia, lalu dikisahkan bahwa beliau turun dari mimbar setahap demi setahap sambil mengatakan bahwa Allah ﷻ turun seperti turunnya beliau. Kisah ini adalah dusta yang nyata atas nama Syaikhul Islam.

Orang yang menyebarkan cerita tersebut mengklaim bahwa peristiwa itu terjadi pada Ramadhan tahun 726 H. Padahal, berdasarkan riwayat murid-murid beliau, pada bulan Sya‘ban tahun 726 H, Syaikhul Islām sudah dipenjara dan tidak bebas berdakwah. Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa cerita tersebut adalah kebohongan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bukan seorang musyabbih, bukan pula orang yang menyerupakan Allah ﷻ dengan makhluk-Nya. Insya Allah, dalam pembahasan kitab nanti akan terlihat dengan jelas bagaimana beliau berlepas diri dari tasybih, takyif, dan tamsil.

Penjara dan Permusuhan

Syaikhul Islam diuji oleh Allah ﷻ dengan berbagai ujian. Di antara pihak yang paling banyak memusuhi beliau pada masanya adalah : a) Sebagian qaḍi dan fuqaha’, karena beliau sering menyelisihi fatwa dan pendapat mereka, b) Kelompok Sufiyyah, dan c) Ahlul kalam.

Permusuhan ini muncul karena Syaikhul Islam tidak fanatik kepada mazhab tertentu, tetapi fanatik kepada dalil. Akibatnya, beliau beberapa kali dipenjara, di antaranya pada tahun 705 H, kemudian dibebaskan, lalu dipenjara kembali, dengan sebab yang berbeda-beda, baik karena tuduhan kaum Sufi maupun tekanan dari para qaḍi dan fuqaha.

Wafatnya Syaikhul Islam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah wafat pada malam Senin, 20 Dzulqa‘dah tahun 728 H. Jenazah beliau dihadiri oleh jumlah manusia yang sangat banyak. Hal ini mengingatkan kita kepada ucapan Imam Ahmad bin Hanbal, yang berkata, "Katakan kepada ahlul bid‘ah, yang akan memutuskan antara kami dan kalian adalah ketika disaksikan jenazah-jenazah itu."

Maksudnya, di antara tanda seseorang berada di atas kebenaran adalah qabul dari Allah ﷻ, yaitu Allah menanamkan rasa cinta kepada hamba tersebut di dalam hati manusia. Ketika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menjadikan manusia mencintainya. Maka ketika ia wafat, banyak orang yang ingin menghadiri jenazahnya dan mendoakannya.

Sebaliknya, ahlul bid‘ah sering kali dibenci manusia. Meskipun secara zahir mereka memiliki pengikut, tetapi di dalam hati manusia tidak ada kecintaan yang tulus kepada mereka. Ketika mereka wafat, yang menghadiri jenazahnya hanya sedikit, karena Allah ﷻ mencabut qabul dari mereka.

Demikian biografi singkat dan penutup pembahasan tentang kehidupan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Semoga Allah ﷻ menjadikannya bermanfaat dan menambah kecintaan kita kepada ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah.

Simak Audio Pujian Para Ulama Kepada Penulis Kitab (lanjutan) dan Wafatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Pemateri : Ustad. DR. Abdullah Roy, MA

1 comment:

Buyung said...

Catatan :
Diantara tanda seseorang berada di atas kebenaran adalah qabul dari Allah ﷻ, yaitu Allah menanamkan rasa cinta kepada hamba tersebut di dalam hati manusia. Ketika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menjadikan manusia mencintainya.

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar Anda.