H001 ~ Nama dan Nasab Keilmuan Penulis Kitab Ushulus Sunnah

Pembahasan kitab Ushulus Sunnah yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah.

 بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه

Halaqah yang pertama dari silsilah ilmiah pembahasan kitab Ushulus Sunnah yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Dan sebelum kita masuk pada penjelasan dari kitab Ushulus Sunnah ini, maka pada pertemuan yang pertama ini insya Allah kita akan mengenal lebih dekat dengan penulis kitab ini.

Poin Pertama: Biografi Al-Imam Ahmad bin Hambal

Beliau adalah Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Nasab beliau: Ahmad ibnu Muhammad ibnu Hambal. Jadi, Hambal ini adalah nama kakek beliau. Biasa disingkat Ahmad bin Hambal. Bapaknya namanya adalah Muhammad. Ahmad ibnu Muhammad ibnu Hambal ibnu Hilal Al-Arabi Al-Adnani Asy-Syaibani.

Beliau adalah seorang imam di dalam masalah fikih, sekaligus di dalam masalah hadis. Makanya beliau salah satu di antara imam yang empat. Banyak yang menisbatkan mazhabnya kepada mazhab imam yang empat ini, yaitu:

1. Imam Abu Hanifah

2. Imam Malik

3. Imam Syafi'i

4. Dan juga Imam Ahmad bin Hambal.

Keluasan Ilmu

Dan sekaligus beliau adalah seorang muhaddits, seorang ahli hadis. Sampai satu juta hadis Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam (beliau hafal) dan juga memiliki pemahaman yang dalam terhadap hadis-hadis tersebut. Sehingga beliau adalah seorang faqih ya, seorang muhaddits. Ya seorang ahli fikih dan sekaligus beliau adalah seorang ahli hadis.

Dan ini sesuatu yang jarang ya. Ada sebagian orang yang dia condong kepada fikih, tapi kalau dilihat dari ilmu hadisnya dia kurang. Dan ada sebagian yang condong kepada ilmu hadis, tapi kalau dilihat dari sisi fikihnya dia kurang. Karena asalnya memang demikian kemampuan manusia, dia bisanya fokus pada satu perkara, itu asalnya. Tapi terkadang Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan kemampuan bagi sebagian orang sehingga dia bisa mampu untuk menguasai lebih dari satu ilmu. Fikih dia termasuk yang dikedepankan, dari sisi hadis juga menjadi rujukan bagi orang. Nah, ini adalah keutamaan yang Allah berikan bagi siapa yang Allah kehendaki.

Kelahiran dan Masa Muda

Kunyah beliau adalah Abu Abdillah. Dilahirkan di Baghdad dan beliau tumbuh berkembang di sana. Sehingga beliau Baghdadi, ya beliau adalah Baghdadi karena beliau lahir di sana dan hidup dan berkembang di sana. Dilahirkan pada tahun 164 Hijriah, yaitu 14 tahun setelah dilahirkannya Imam Syafi'i rahimahullah.

Tentang masalah keilmuan beliau, Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah beliau memulai menyibukkan diri dengan ilmu ini ketika beliau berumur 16 tahun. Bagaimana ini disebutkan oleh beberapa yang menulis tentang biografi beliau. Jadi, ketika berumur 16 tahun—kalau sekarang berarti sekitar umur kelas 1 SMA ya—itu baru beliau menyibukkan dirinya dengan ilmu agama. Jadi mulai mendatangi masyaikh, mulai mendatangi guru-gurunya itu ketika berumur 16 tahun.

Perjalanan Menuntut Ilmu (Rihlah)

Dan beliau rahimahullah sebagaimana para thulabul ilmi yang lain—dan ini adalah kebiasaan para penuntut ilmu dari zaman dulu sampai sekarang—setelah belajar dari para guru yang ada di daerahnya, melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu agama ini. Belajar hadis dan juga belajar untuk memahami hadis-hadis tersebut.

Dan beliau bukan berasal dari keluarga yang mampu. Karena para penuntut ilmu itu ada yang memang berasal dari keluarga yang mampu dan ada di antara mereka yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. Al-Imam Ahmad bin Hambal termasuk dari keluarga yang tidak mampu. Tapi beliau punya tekad yang kuat, punya keinginan yang tinggi. Sehingga beliau pernah berjalan kaki dari negeri beliau sampai ke Yaman, karena kalau naik kendaraan enggak ada uang untuk naik kendaraan. Yang bisa beliau lakukan adalah berjalan kaki.

Dan setelah sampai di Yaman, beliau tinggal di sana selama 2 tahun mencari hadis Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu masih dalam mendatangi majelis-majelis tahdis, menghadiri majelis-majelis para muhaddits yang ada di Yaman. Seperti misalnya Abdurrazzaq; Abdurrazzaq yang memiliki kitab Al-Mushannaf, Mushannaf Abdurrazzaq Ash-Shan'ani. Beliau tinggal di sana selama 2 tahun mendengar hadis dari Abdurrazzaq Ash-Shan'ani.

Kegigihan dan Keberkahan Ilmu

Dan terlihat dari jasad beliau, dari fisik beliau, dan kesehatan beliau secara umum, bahwasanya beliau telah capek sekali dalam menuntut ilmu saat itu. Sehingga ketika beliau sampai ke Makkah—jadi setelah dari Yaman kemudian beliau ke Makkah—ada yang mengatakan kepada beliau:

"أجهدت نفسك يا أبا عبد الله"

(Ajhadta nafsaka ya Aba Abdillah) — "Engkau telah mencapaikan dirimu sendiri wahai Abu Abdillah."

Mereka melihat dari fisik beliau. Jadi 2 tahun di Yaman, terlihat dari fisik beliau sudah berubah ya. "Engkau telah membuat capek dirimu sendiri." Maka beliau rahimahullah mengatakan:

"ما أهون المشقة فيما استفدنا من عبد الرزاق"

(Ma ahwanal masyaqqah fima istafadna min Abdurrazzaq) — "Betapa ringannya kesusahan tersebut," kata beliau, "kalau dibandingkan dari faedah yang ana ambil dari Abdurrazzaq."

Jadi perjalanan beliau yang panjang, berjalan kaki, berjalan kaki menuju Yaman, dan kesusahan beliau selama 2 tahun di Yaman, itu tidak ada apa-apanya dan sangat ringan bagi beliau dibandingkan dari faedah yang beliau ambil dari guru beliau Abdurrazzaq ini.

Ini menunjukkan bagaimana mereka sudah merasakan nikmatnya mendengar hadis-hadis Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam. Itu adalah ya sesuatu yang sangat berharga bagi para salaf. Jangankan ratusan ribu hadis yang mereka dengar, satu hadis saja oleh para salaf kalau memang itu adalah dari Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam, maka mereka rela untuk melakukan perjalanan yang panjang demi untuk mendapatkan dan untuk mendengar hadis Nabi.

Sebagaimana dilakukan oleh sebagian sahabat Radiyallahu ta'ala 'anhum, Jabir bin Abdillah atau yang lainnya, yang melakukan safar dari Madinah ke Syam, perjalanan selama satu bulan hanya untuk mendengar satu hadis dari Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam. Yaitu dia tahu ada seorang sahabat yang meriwayatkan hadis ini, maka dia melakukan perjalanan yang panjang untuk mendengar langsung hadis tadi dari sahabat yang mendengar dari Nabi Sallallahu'alaihi wa sallam.

Karena prinsip mereka, mungkin saja ketika dia mendengar hadis tadi, itulah yang menjadikan perubahan pada hidupnya. Kita enggak tahu, mungkin di sana ada beberapa hadis tapi ada satu hadis yang kita mendengarnya saat hati kita ini dalam keadaan terbuka, dalam keadaan lapang, sehingga masuk ke dalam hati kita dan menjadikan hidup kita berubah karena satu hadis yang kita dengar.

Sehingga para salaf dahulu semangat mereka untuk melakukan perjalanan panjang demi untuk mendapatkan meskipun hanya satu hadis. Tapi itu sudah sesuatu yang sangat berharga di mata para salaf Radiyallahu ta'ala 'anhum. Lalu bagaimana mereka bisa dalam satu majelis bisa mendengar dari gurunya 1.000, 2.000, bahkan puluhan ribu hadis Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka merasakan nikmat yang luar biasa, sehingga rasa capek perjalanan berbulan-bulan itu hilang setelah mereka mendengar hadis-hadis Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam.

Dan ini yang dirasakan oleh Al-Imam Ahmad bin Hambal dan juga para imam yang lain, para ulama yang lain. Banyak di antara mereka yang karena mereka merasakan nikmatnya tadi, sehingga terkadang mereka menunda waktu makannya. Padahal sudah beli segala sesuatu untuk dimasak, tapi karena mereka sudah nikmat menyibukkan dirinya dengan hadis, terkadang enggak sempat mereka untuk buat bumbu, untuk menunggu masaknya. Ada di antara mereka itu sampai makan ikannya dalam keadaan mentah karena tidak sempat untuk masak, karena mereka sudah ada dars yang lain dan mereka merasa nikmat dengan pelajaran-pelajaran tersebut.

Ya itu tentunya derajat yang tinggi yang sampai kepadanya para ulama kita, para imam kita. Dan para ulama kita di zaman sekarang juga telah dinukil dari mereka kisah-kisah yang menunjukkan bagaimana mereka menikmati ilmu ini. Ya seperti Syaikh Sa'di rahimahullah ketika beliau dalam keadaan sakit dan dilarang oleh dokter untuk membaca, maka dia mengatakan: "Bukankah orang yang sakit itu biasanya diberikan sesuatu yang menjadikan dia senang, menjadikan dia nikmat? Dan kenikmatan saya adalah ketika saya membaca buku-buku ini."

Guru-Guru Lainnya

Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah telah selain dari Abdurrazzaq, beliau juga mengambil ilmu dari para imam yang lain seperti:

1. Yahya bin Ma'in

2. Ishaq bin Rahuyah

3. Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahumullah jami'an.

Dan beliau sempat diundang oleh sebagian untuk pergi ke Mesir melakukan perjalanan ke Mesir, cuma saat itu beliau tidak mampu.

Penutup

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullah Roy di Kota Jember. Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiah (HSI) Abdullah Roy.

Simak audio lengkap pembahasan H001 ~ Nama dan Nasab Keilmuan Penulis  Kitab Ushulus Sunnah

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar Anda.