009 Inti Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (Bag.1)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh berkata:
فَهَذَا اعْتِقَادُ الْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ الْمَنْصُورَةِ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ
"Maka ini adalah keyakinan golongan yang selamat dan tertolong hingga hari kiamat."
I'tiqad berarti keyakinan atau akidah. Secara bahasa, i'tiqad diambil dari kata 'aqada yang berarti mengikat. Akidah adalah sesuatu yang digunakan untuk mengikat hati agar tidak goyah atau berpaling, dan itulah yang menjadi keyakinan seseorang. Akidah terbagi menjadi dua: Al-Aqidah Ash-Shahihah (akidah yang benar) dan Al-Aqidah Al-Bathilah (akidah yang batil).
Akidah yang sahih adalah keyakinan yang berlandaskan Al-Qur'an dan Hadis Nabi ﷺ sesuai pemahaman para salaf. Inilah keyakinan yang benar karena bersumber dari wahyu Allah ﷻ. Allah-lah yang mengabarkan kebenaran tersebut melalui lisan Rasul-Nya, yang kemudian dipahami secara murni oleh para pendahulu kita (salaf) yang telah dipuji oleh Allah ﷻ.
Sebaliknya, akidah yang batil adalah keyakinan-keyakinan yang dijadikan pengikat hati oleh sebagian orang, namun tidak berlandaskan Al-Qur'an, hadis, maupun pemahaman para salaf. Hal utama yang ingin ditegaskan oleh penulis di sini adalah akidah dari Al-Firqatun Najiyah (Kelompok yang selamat).
Beliau menyebutkan: اعْتِقَادُ الْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ "Keyakinan golongan yang selamat."
Kelompok ini disebut Najiyah (selamat) karena dua hal. Pertama, mereka selamat dari perpecahan karena tidak menyimpang dari jalan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Kedua, mereka adalah golongan yang akan selamat dari api neraka Allah ﷻ. Istilah ini diambil dari hadis Rasulullah ﷺ yang mengabarkan tentang perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga golongan. Beliau ﷺ berabda, "kulluha fīnnar" (semuanya masuk ke dalam neraka), "illa wahidah" (kecuali satu). Golongan yang satu inilah yang selamat. Beliau menjelaskan bahwa golongan yang selamat adalah mereka yang menetapi jalan beliau dan jalan para sahabatnya.
Meskipun terdapat tujuh puluh dua aliran yang binasa (Al-Firaq Al-Halikah), terdapat satu golongan yang selamat (Al-Firqatun Najiyah). Jika seseorang mengambil akidah aliran sesat—seperti Khawarij, Mu'tazilah, atau Murji'ah—maka ia terancam oleh ancaman neraka tersebut. Namun, jika kita memegang teguh akidah Firqatun Najiyah, insya Allah kita akan mendapatkan keselamatan sebagaimana mereka.
Syaikhul Islam juga menyifatkan golongan ini sebagai: الْمَنْصُورَةِ (Al-Manshurah)
Artinya, golongan yang senantiasa ditolong oleh Allah ﷻ. Hal ini merujuk pada sabda Nabi ﷺ yang maknanya: "Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berada di atas kebenaran (manshurah). Tidak akan memudaratkan mereka orang yang menghinakan maupun orang yang menyelisihi mereka sampai datangnya urusan Allah."
Mereka ditolong karena berada di atas kebenaran dan istikamah dalam menyebarkan hak (al-haqq). Sesuai janji Allah dalam QS. Muhammad ayat 7: إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ "Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
Mereka tidak akan goyah meskipun ditinggalkan oleh manusia atau diselisihi oleh musuh-musuh mereka. Allah-lah yang menjamin istikamah mereka di tengah badai fitnah: حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ “Sampai datangnya perkara Allah."
Perkara yang dimaksud adalah diutusnya angin lembut menjelang kiamat yang akan mencabut nyawa setiap mukmin yang menghirupnya. Syaikhul Islam ingin memaparkan akidah golongan ini agar kita dapat mempelajarinya, menyamakan keyakinan kita dengan mereka, sehingga kita pun mendapatkan pertolongan Allah sebagaimana mereka.
Beliau melanjutkan: إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ "Sampai datangnya hari kiamat."
Keterangan waktu ini memiliki dua penafsiran. Pertama, ila qurbi qiyamissa’ah (sampai dekatnya hari kiamat). Menjelang hari kiamat, Allah akan mencabut nyawa seluruh orang beriman melalui angin tersebut, sehingga yang tersisa saat sangkakala ditiup hanyalah orang-orang kafir (syirarul khalq). Muslim tidak akan mengalami kengerian kiamat karena rahmat Allah. Ini menunjukkan bahwa akidah Ahlus Sunnah adalah akidah yang tsabitah (kokoh), tidak berubah sejak zaman sahabat hingga akhir zaman.
Penafsiran kedua, ila qiyamissa'ati mautihim, yang berarti sampai kematian menjemput mereka masing-masing. Namun, pendapat pertama lebih kuat dan jelas karena selaras dengan hadis tentang datangnya urusan Allah (amrullah). Hadis tersebut menyebutkan bahwa meskipun seorang mukmin bersembunyi di dalam gunung, angin tersebut akan tetap mencapainya dan mewafatannya sebelum kiamat besar terjadi.
أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ Ahlussunnah wal Jama'ah adalah nama lain dari Al-Firqatun Najiyah dan Ath-Tha’ifah Al-Manshurah. Istilah ini mengisyaratkan bahwa sifat utama mereka adalah keahlian (kedekatan) dalam mengikuti Sunnah Nabi ﷺ.
Secara bahasa, Ahlun berarti orang yang paling dekat. Seperti kata ali ahli yang merujuk pada anak dan istri karena kedekatan mereka. Ahlussunnah adalah orang-orang yang paling dekat dengan Islam yang dibawa Nabi ﷺ. Mereka disebut "ahli" bukan sekadar karena pengakuan, tetapi karena mereka sangat antusias dalam mempelajari Islam secara mendalam—mulai dari akidah, fikih, usul fikih, hingga tata bahasanya.
Mereka juga disebut "ahli" dalam sisi pengamalan ('ilman wa 'amal). Mereka memperhatikan segala detail, mulai dari tata cara salat, cara berpakaian, hingga adab bermuamalah, dengan tujuan mempraktikkan Islam sesuai contoh aslinya. Karena kedekatan ilmu dan amal terhadap Sunnah inilah mereka mendapatkan predikat sebagai golongan yang selamat dan tertolong.
Demikian materi yang dapat kami sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
Simak Audio Inti Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama'ah (Bag.1). Oleh : Ustad. DR. Abdullah Roy, MA
No comments:
Post a Comment
Silahkan tinggalkan komentar Anda.