Masih Mau Merayakan Maulid Nabi ?
Sejarah dan Asal-usul Perayaan Maulid Nabi
Jika kita menelusuri kitab-kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak ditemukan pada masa Sahabat, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in, maupun pada masa empat imam mazhab: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad. Padahal, mereka adalah generasi yang paling mencintai dan mengagungkan Nabi Muhammad ﷺ. Mereka juga merupakan orang-orang yang paling memahami sunnah serta paling bersemangat dalam mengikuti seluruh ajaran beliau.
Pelopor Perayaan Maulid
Berdasarkan catatan para pakar sejarah yang tepercaya, pihak yang pertama kali memelopori perayaan Maulid Nabi adalah Dinasti 'Ubaidiyyun, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Fatimiyyun. Dinasti ini mengklaim silsilah keturunan mereka bersambung kepada Fatimah radhiyallahu 'anha.
Sejarawan terkemuka, Al-Maqrizi, menjelaskan dalam kitabnya, Al-Mawa'izh wal I'tibar, bahwa para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Selain Maulid Nabi, mereka juga merayakan:
- Maulid 'Ali bin Abi Thalib, Hasan, Husain, dan Fatimah az-Zahra.
- Maulid khalifah yang sedang berkuasa.
- Perayaan hari raya agama lain, seperti Nauruz (Tahun Baru Persia), Milad (Natal), dan Al-Khamisul 'Adas (tiga hari sebelum Paskah).
Kesaksian serupa disampaikan oleh Syaikh Bakhit Al-Muthi'i (Mufti Mesir) dalam kitab Ahsanul Kalam. Beliau menyebutkan bahwa Dinasti Fatimiyyun mulai mengadakan enam macam perayaan maulid pada tahun 362 H di masa kepemimpinan Al-Mu'izz Lidinillah. Fakta ini juga diperkuat oleh Syaikh 'Ali Mahfuzh dan Ustadz 'Ali Fikri dalam karya-karya mereka.
Hakikat Dinasti Fatimiyyun
Banyak orang belum mengetahui hakikat sebenarnya dari Dinasti Fatimiyyun. Sebagian mengira mereka adalah orang-orang saleh yang berniat baik dalam mengagungkan Nabi ﷺ. Namun, para ulama telah mengungkap penyimpangan akidah mereka:
- Al-Qadhi Al-Baqillani: Dalam kitab Kasyful Asrar, beliau menyatakan bahwa dinasti ini mendukung paham Rafidhah (Syiah) dan menyembunyikan kekufuran.
- Ibnu Taimiyah (Ahmad bin 'Abdul Halim): Beliau menjelaskan dalam Majmu' Fatawa bahwa mayoritas penguasa Fatimiyyun adalah orang-orang zalim yang menjauh dari kewajiban agama dan gemar menonjolkan bid'ah yang menyelisihi Al-Qur'an dan As-Sunnah. Para ulama sepakat bahwa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah jauh lebih lurus akidahnya dibandingkan Dinasti Fatimiyyun.
- Imam Al-Ghazali: Beliau bahkan menulis kitab khusus berjudul Fadha'ihul Bathiniyyah untuk membantah kesesatan akidah mereka.
Klaim Nasab yang Diragukan
Terkait klaim bahwa mereka adalah keturunan Fatimah radhiyallahu 'anha, para ahli nasab banyak yang mengingkarinya. Ibnu Khallikan dalam Wafayatul A'yan menyebutkan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmu yang kuat. Banyak ulama, termasuk Al-Baqillani, justru menyebut mereka sebagai keturunan Majusi.
Banyaknya perayaan yang mereka buat—mencapai 25 perayaan dalam setahun—termasuk mengadopsi hari raya Majusi dan Nasrani, menunjukkan bahwa tujuan utama mereka adalah menarik simpati masyarakat agar mengikuti mazhab Bathiniyyah yang menyimpang.
Kesimpulan
Berdasarkan fakta-fakta sejarah di atas, dapat disimpulkan beberapa poin penting:
- Tidak Ada Dasar dari Salafus Shalih: Perayaan Maulid Nabi tidak pernah dipraktikkan oleh generasi terbaik (Sahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in) maupun para imam mazhab.
- Muncul di Abad ke-4 Hijriah: Perayaan ini pertama kali muncul pada masa Daulah Fatimiyyun, yang kemudian dibubarkan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi pada tahun 546 H.
- Penyimpangan Pelopornya: Dinasti Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan akidah yang sangat serius menurut penilaian para ulama besar.
- Kekhawatiran Tasyabbuh: Memperingati Maulid Nabi berarti mengikuti tradisi yang dipelopori oleh kaum yang jauh dari tuntunan murni Islam. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Wallahu a'lam.
Untuk penjelasan lengkap :
- Ahsanul Kalam fima Yata'allaqu bis Sunnah wal Bid'ah minal Ahkam, Penulis: Syaikh Muhammad Bakhit Al-Muthi'i (Mantan Mufti Mesir). Catatan : Penjelasan dari ulama Mesir modern mengenai sejarah awal mula perayaan maulid di negeri mereka.
- Al-Bidayah wan Nihayah, Penulis: Al-Hafizh Ibnu Katsir (Wafat 774 H). Catatan: Untuk memberikan gambaran umum mengenai kondisi politik dan keagamaan pada masa munculnya Dinasti Fatimiyyun.
- Majmu' Fatawa (Khususnya Jilid 35), Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Wafat 728 H). Catatan : Berisi penjelasan mendalam mengenai penyimpangan akidah Dinasti Fatimiyyun serta perbandingan mereka dengan dinasti Islam lainnya.
- Kasyful Asrar wa Hatkul Astar, Penulis: Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqillani (Wafat 403 H). Catatan: Salah satu kitab paling awal yang membongkar rahasia dan latar belakang asli pendiri Dinasti Fatimiyyun/Ubaidiyyun.
No comments:
Post a Comment
Silahkan tinggalkan komentar Anda.